arvijatmiko wrote:Guys,
.............mungkin itu juga alasan mengapa sebagi efek bertumpuk tumpuk yang tujuannya hanya untuk menutupi kelemahan dari nada yang dimainkannya[/b]an besar gitaris memilih menjadi schredder ketimbang menjadi pemain gitar akustik.Gitar akustik adalah gitar yang ngga pernah bohong soal nada.
Jadi kalo mau liat permainan seorang shredder itu canggih atau ngga, coba deh dia suruh main gitar akustik. Liat kombinasi permainan CHORD jari kiri dan kanan dalam tempo yang standar.
Semoga bermanfaat...
Salam,
Arvi
Just ralat saja,
Kalau gitaris ngga becus, walau main akustik atau elektrik...sekali ngga becus ya tetap ngga becus.
Kalaupun ditumpuk dengan efek...malah semakin kelihatan ngga becusnya. Jadi jangan dipukul rata dan ditukar2x seperti itu ....(reviewnya pakai kaca mata profesional, bukan amatir).
Jago di elektrik atau di akustik itu style , soul orang lah...ngga bisa di sama ratakan kriteria nya.
Bagi saya, gitaris yg hebat (bukan tukang analisa, pengajar musik/teori musik yg hebat, tukang baca not tapi just bawain lagu orang lain, tolong dibedakan...) adalah kriterianya tdk sekedar hanya pinter baca not, teori scale, chord atau apapun...yg hebat adalah bagaimana dia bisa ngarang lagu sendiri / mengkomposisi apa yg dia buat, ide orisinil, bisa menuangkan dengan detail apa yg di otaknya menjadi karya seni yg orisinil, feelin deep, dan lain sejenisnya.